Senin, 31 Oktober 2011

Askep Fraktur


BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Fraktur merupakan terputusnya kontinyuitas dari tulang, lempeng epifisis, atau tulang rawan sendi.
Fraktur atau patah tulang adalah masalah yang akhir-akhir ini sangat banyak menyita perhatian masyarakat, pada arus mudik dan arus balik hari raya idul fitri tahun ini banyak terjadi kecelakaan lalu lintas yang sangat banyak yang sebagian korbannya mengalami fraktur. Banyak pula kejadian alam yang tidak terduga yang banyak menyebabkan fraktur. Sering kali untuk penanganan fraktur ini tidak tepat mungkin dikarenakan kurangnya informasi yang tersedia contohnya ada seorang yang mengalami fraktur, tetapi karena kurangnya informasi untuk menanganinya Ia pergi ke dukun pijat, mungkin karena gejalanya mirip dengan orang yang terkilir.
Fraktur lebih sering terjadi pada orang laki laki daripada perempuan dengan umur dibawah 45 tahun dan sering berhubungan dengan olahraga, pekerjaan atau kecelakaan. Sedangkan pada Usila prevalensi cenderung lebih banyak terjadi pada wanita berhubungan dengan adanya osteoporosis yang terkait dengan perubahan hormon.
Terdapat berbagai macam jenis fraktur. Untuk lebih sistematisnya, dapat dibagi berdasarkan:
  • Lokasi
    Fraktur dapat terjadi di di berbagai tempat pada tulang seperti pada diafisis, metafisis, epifisis, atau intraartikuler. Jika fraktur didapatkan bersamaan dengan dislokasi sendi, maka dinamakan fraktur dislokasi.
  • Luas
    Terbagi menjadi fraktur lengkap dan tidak lengkap. Fraktur tidak lengkap contohnya adalah retak.
  • Konfigurasi
    Dilihat dari garis frakturnya, dapat dibagi menjadi transversal (mendatar), oblik (miring), atau spiral (berpilin). Jika terdapat lebih dari satu garis fraktur, maka dinamakan kominutif.
  • Hubungan antar bagian yang fraktur Antar bagian yang fraktur dapat masih berhubungan (undisplaced) atau terpisah jauh (displaced).
  • Hubungan antara fraktur dengan jaringan sekita. Fraktur dapat dibagi menjadi fraktur terbuka (jika terdapat hubungan antara tulang dengan dunia luar) atau fraktur tertutup (jika tidak terdapat hubungan antara fraktur dengan dunia luar).
  • Komplikasi
    Fraktur dapat terjadi dengan disertai komplikasi, seperti gangguan saraf, otot, sendi, dll atau tanpa komplikasi

B.     TUJUAN
Adapun tujuan pembuatan makalah ini adalah :        
    • Untuk mengetahui dan memahami mengenai pengertian Fraktur.
    • Untuk mengetahui dan memahami tanda dan gejala Fraktur.
    • Untuk mengetahuai dan memahami macam-macam / pengelompokan Fraktur
    • Untuk memahami dan mengaplikasikan dalam lungkup keperawatan mengenai Asuhan Keperwatan Fraktur














BAB II PEMBAHASAN
FRAKTUR

A.    DEFINISI
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis luasnya. Fraktur terjadi jika tulang dikenai stress yang lebih besar dari yang dapat diabsorpsinya. Fraktur dapat disebabkan oleh pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan punter mendadak, dan bahkan kontraksi otot ekstrem. Meskipun tulang patah, jaringan disekitarnya akan terpengaruh, mengakibatkan edema jaringan lunak, perdarahan ke otot dan sendi, dislokasi sendi, ruptur tendo, kerusakan saraf, dan kerusakan pembuluh darah. Organ tubuh dapat mengalami cedara akibat gaya yang disebabkan oleh fraktur atau akibat fragmen tulang.

B.     ANATOMI DAN FISIOLOGI
a.      Struktur Tulang
Tulang sangat bermacam-macam baik dalam bentuk ataupun ukuran, tapi mereka masih punya struktur yang sama. Lapisan yang paling luar disebut Periosteum dimana terdapat pembuluh darah dan saraf. Lapisan dibawah periosteum mengikat tulang dengan benang kolagen disebut benang sharpey, yang masuk ke tulang disebut korteks. Karena itu korteks sifatnya keras dan tebal sehingga disebut tulang kompak. Korteks tersusun solid dan sangat kuat yang disusun dalam unit struktural yang disebut Sistem Haversian. Tiap sistem terdiri atas kanal utama yang disebut Kanal Haversian. Lapisan melingkar dari matriks tulang disebut Lamellae, ruangan sempit antara lamellae disebut Lakunae (didalamnya terdapat osteosit) dan Kanalikuli. Tiap sistem kelihatan seperti lingkaran yang menyatu. Kanal Haversian terdapat sepanjang tulang panjang dan di dalamnya terdapat pembuluh darah dan saraf yang masuk ke tulang melalui Kanal Volkman. Pembuluh darah inilah yang mengangkut nutrisi untuk tulang dan membuang sisa metabolisme keluar tulang. Lapisan tengah tulang merupakan akhir dari sistem Haversian, yang didalamnya terdapat Trabekulae (batang) dari tulang. Trabekulae ini terlihat seperti spon tapi kuat sehingga disebut Tulang Spon yang didalam nya terdapat bone marrow yang membentuk sel-sel darah merah. Bone Marrow ini terdiri atas dua macam yaitu bone marrow merah yang memproduksi sel darah merah melalui proses hematopoiesis dan bone marrow kuning yang terdiri atas sel-sel lemak dimana jika dalam proses fraktur bisa menyebabkan Fat Embolism Syndrom (FES).
Tulang terdiri dari tiga sel yaitu osteoblast, osteosit, dan osteoklast. Osteoblast merupakan sel pembentuk tulang yang berada di bawah tulang baru. Osteosit adalah osteoblast yang ada pada matriks. Sedangkan osteoklast adalah sel penghancur tulang dengan menyerap kembali sel tulang yang rusak maupun yang tua. Sel tulang ini diikat oleh elemen-elemen ekstra seluler yang disebut matriks. Matriks ini dibentuk oleh benang kolagen, protein, karbohidrat, mineral, dan substansi dasar (gelatin) yang berfungsi sebagai media dalam difusi nutrisi, oksigen, dan sampah metabolisme antara tulang daengan pembuluh darah. Selain itu, didalamnya terkandung garam kalsium organik (kalsium dan fosfat) yang menyebabkan tulang keras.sedangkan aliran darah dalam tulang antara 200 – 400 ml/ menit melalui proses vaskularisasi tulang (Black,J.M,et al,1993 dan Ignatavicius, Donna. D,1995).
b.      Tulang Panjang
Adalah tulang yang panjang berbentuk silinder dimana ujungnya bundar dan sering menahan beban berat (Ignatavicius, Donna. D, 1995). Tulang panjang terdiri atas epifisis, tulang rawan, diafisis, periosteum, dan medula tulang. Epifisis (ujung tulang) merupakan tempat menempelnya tendon dan mempengaruhi kestabilan sendi. Tulang rawan menutupi seluruh sisi dari ujung tulang dan mempermudah pergerakan, karena tulang rawan sisinya halus dan licin. Diafisis adalah bagian utama dari tulang panjang yang memberikan struktural tulang. Metafisis merupakan bagian yang melebar dari tulang panjang antara epifisis dan diafisis. Metafisis ini merupakan daerah pertumbuhan tulang selama masa pertumbuhan. Periosteum merupakan penutup tulang sedang rongga medula (marrow) adalah pusat dari diafisis (Black, J.M, et al, 1993).
c.       Tulang Humerus
Tulang humerus terbagi menjadi tiga bagian yaitu kaput (ujung atas), korpus, dan ujung bawah.
1)      Kaput
Sepertiga dari ujung atas humerus terdiri atas sebuah kepala, yang membuat sendi dengan rongga glenoid dari skapla dan merupakan bagian dari banguan sendi bahu. Dibawahnya terdapat bagian yang lebih ramping disebut leher anatomik. Disebelah luar ujung atas dibawah leher anatomik terdapat sebuah benjolan, yaitu Tuberositas Mayor dan disebelah depan terdapat sebuah benjolan lebih kecil yaitu Tuberositas Minor. Diantara tuberositas terdapat celah bisipital (sulkus intertuberkularis) yang membuat tendon dari otot bisep. Dibawah tuberositas terdapat leher chirurgis yang mudah terjadi fraktur.
2)      Korpus
Sebelah atas berbentuk silinder tapi semakin kebawah semakin pipih. Disebelah lateral batang, tepat diatas pertengahan disebut tuberositas deltoideus (karena menerima insersi otot deltoid). Sebuah celah benjolan oblik melintasi sebelah belakang, batang, dari sebelah medial ke sebelah lateral dan memberi jalan kepada saraf radialis atau saraf muskulo-spiralis sehingga disebut celah spiralis atau radialis.
3)      Ujung Bawah
Berbentuk lebar dan agak pipih dimana permukaan bawah sendi dibentuk bersama tulang lengan bawah. Trokhlea yang terlatidak di sisi sebelah dalam berbentuk gelendong-benang tempat persendian dengan ulna dan disebelah luar etrdapat kapitulum yang bersendi dengan radius. Pada kedua sisi persendian ujung bawah humerus terdapat epikondil yaitu epikondil lateral dan medial. (Pearce, Evelyn C, 1997)
d.      Fungsi Tulang
1)      Memberi kekuatan pada kerangka tubuh.
2)      Tempat mlekatnya otot.
3)      Melindungi organ penting.
4)      Tempat pembuatan sel darah.
5)      Tempat penyimpanan garam mineral.(Ignatavicius, Donna D, 1993)

C.    ETIOLOGI
Penyebab fraktur / patah tulang menurut (Long, 1996 : 367) adalah :
a.       Benturan dan cedera (jatuh pada kecelakaan)
b.      Fraktur patologik (kelemahan hilang akibat penyakit kanker,osteophorosis)
c.       Patah karena letih
d.      Patah karena tulang tidak dapat mengabsorbsi energi karena berjalan terlalu jauh.
Menurut Sachdeva (1996), penyebab fraktur dapat dibagi menjadi  yaitu :
a.       Cedera traumatic, cedera traumatik pada tulang dapat disebabkan oleh :
1)      Cedera langsung berarti pukulan langsung terhadap tulangsehingga tulang pata secara spontan. Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur melintang dan kerusakan pada kulit diatasnya.
2)      Cedera tidak langsung berarti pukulan langsung berada jauh dari lokasi benturan, misalnya jatuh dengan tangan berjulur dan menyebabkan fraktur klavikula.
3)      Fraktur yang disebabkan kontraksi keras yang mendadak dari otot yang kuat.
b.      Fraktur Patologik, Dalam hal ini kerusakan tulang akibat proses penyakit dimana dengan trauma minor dapat mengakibatkan fraktur dapat juga terjadi pada berbagai keadaan berikut :
1)      Tumor tulang (jinak atau ganas) : pertumbuhan jaringan baru yang tidak terkendali dan progresif.
2)      Infeksi seperti osteomielitis : dapat terjadi sebagai akibat infeksi akut atau dapat timbul sebagai salah satu proses yang progresif, lambat dan sakit nyeri.
3)      Rakhitis : suatu penyakit tulang yang disebabkan oleh defisiensi Vitamin D yang mempengaruhi semua jaringan skelet lain, biasanya disebabkan oleh defisiensi diet, tetapi kadang-kadang keluar dari ekstra vaskuler dan terjadilah syok hipovolemik, yang ditandai dengan penurunan tekanan darah atau hipotensi syokhipovolemik juga dapt menyebabkan cardiac output menurun dan terjadilah hipoksia. Karena hipoksia inilah respon tubuh akan membentuk metabolisme anaerob adalah asam laktat, maka bila terjadi metabolisme anaerob maka asam laktat dalam tubuh akan meningkat.








WOC Fraktur
D.    PATOFISIOLOGI
Sewaktu tulang patah pendarahan biasanya terjadi di sekitar tempat patah dan kedalam jaringan lunak sekitar tulang tersebut, jaringan lunak juga biasanya mengalami kerusakan. Reaksi pendarahan biasanya timbul hebat setelah fraktur. Sel-sel darah putih dan sel anast berakumulasi menyebabkan peningkatan aliran darah ke tempat tersebut. Fagositosis dan pembersihan sisa-sisa sel mati dimulai. Di tempat patah terbentuk fibrin(hematoma fraktur) dan berfungsi sebagai jala-jala untuk melekatkan sel-sel baru. Aktivitas osteoblast terangsang dan terbentuk tulang baru umatur yang disebut callus. Bekuan fibrin direabsorbsi dan sel-sel tulang baru mengalami remodelling untuk membentuk tulang sejati. (Corwin, 2000 : 299).
Insufisiensi pembuluh darah atau penekanan serabut saraf yang berkaitan dengan pembekakan yang tidak ditangani dapat menurunkan asupan darah ke ekstremitas dan mengakibatkan kerusakan saraf perifer. Bila tidak terkontrol pembengkakan dapat mengakibatkan peningkatan tekanan jaringan, oklusi darah totaldan berakibat anoksia mengakibatkan rusaknya serabut saraf maupun jaringan otot. Komplikasi ini dinamakan syndrom kompartemen. (Brunner & Suddarth, 2002 : 2287).
Pengobatan dari fraktur tertutup bisa konservatif atau operatif. Theraphy konservatif meliputi proteksi saja dengan mitella atau bidai. Imobilisasi dengan pemasangan gips dan dengan traksi. Sedangkan operatif terdiri dari reposisi terbuka, fiksasi internal dan reposisi tertutup dengan kontrol radio logis diikuti fraksasi internal.(Mansjoer, 2000 : 348).
Pada pemasangan bidai / gips / traksi maka dilakukan imobilisasi pada bagian yang patah, imobilisasi dapat menyebabkan berkurangnya kekuatan otot dan densitas tulang agak cepat (Price & Willsen, 1995 : 1192).
Pasien yang harus imobilisasi setelah patah tulang akan menderita komplikasi dari imobilisasi antara lain : adanya rasa tidak enak, iritasi kulit dan luka yang disebabkan oleh penekanan, hilangnya otot (Long, 1996 : 378).
Kurang perawatan diri dapat terjadi bila sebagian tubuh di imobilisasi,mengakibatkan berkurangnya kemampuan perawatan diri (Carpenito, 1999 : 346). Pada reduksi terbuka dan fiksasi interna fragmen-fragmen tulang dipertahankan dengan pen, sekrup, pelat, paku. Namun pembedahan meningkatkan kemungkinan terjadi infeksi. Pembedahan itu sendiri merupakan trauma pada jaringan lunak dan struktur yang seluruhnya tidak mengalami cedera mungkin akan terpotong atau mengalami kerusakan selama tindakan operasi (Price & Willson, 1995 : 1192).
Pembedahan yang dilakukan pada tulang, otot dan sendi dapat mengakibatkan nyeri yang hebat (Brunner & Suddarth, 2002 : 2304).

E.     KLASIFIKASI FRAKTUR
Fraktur di klasifikasikan sebagai berikut :
1)      Fraktur tertutup ( fraktur simple ), Merupakan fraktur tanpa komplikasi dengan kulit tetap utuh disekitar fraktur tidak menonjol keluar dari kulit.
2)      Fraktur terbuka ( fraktur kompleks ). Pada tipe ini, terdapat kerusakan kulit sekitar fraktur, luka tersebut menghubungkan bagian luar kulit. Pada fraktur terbuka biasanya potensial untuk terjadinya infeksi, luka terbuka ini dibagi menurut gradenya.
Grade I : luka bersih, kurang dari 1 cm.
Grade II : luka lebih luas disertai luka memar pada kulit dan otot.
Grade III : paling parah dengan perluasan kerusakan jaringan lunak terjadi pula kerusakan pada pembuluh darah dan syaraf.
3)      Fraktur komplet. Fraktur komplet adalah patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya mengalami pergeseran ( bergeser dari posisi normal ). Pada fraktur ini garis fraktur menonjol atau melingkari tulang periosteum terganggu sepenuhnya.
4)      Fraktur inkomplet. Fraktur tidak komplet, patahnya hanya terjadi pada sebagian dari garis tengah tulang. Garis fraktur memanjang ditengah tulang, pada keadaan ini tulang tidak terganggu sepenuhnya.
Fraktur juga digolongkan sesuai pergeseran anatomis fragmen tulang  ( fraktur bergeser/tidak bergeser ) :
1.      Greenstick  Fraktur dimana salah satu sisi tulang patah sedang sisi lainnya membengkok.
2.      Tranversal    Fraktur yang sepanjang garis tengah tulang.
3.      Oblik → Fraktur membentuk sudut dengan garis tengah tulang ( lebih tidak stabil disbanding tranversal ).
4.      Spiral →  Fraktur memuntir seputar batang tulang.
5.      Kominutif → Fraktur dengan tulang pecah memjadi beberapa fragmen.
6.      Depresi → Fraktur dengan fragmen patahan terdorong ke dalam ( sering terjadi pada tengkorak dan tulang wajah ).
7.      Kompresi    Fraktur dimana tulang mengalami kompresi ( terjadi pada tulang belakang ).
8.      Patologik    Fraktur yang terjadi pada daerah tulang berpenyakit ( kista tulang, metastasis tulang, tumor ).
9.      Avulsi →  Tertariknya fragmen tulang oleh ligament atau tendon pada perlekatannya.
10.  Epifiseal →  Fraktur melalui epifisis.
11.  Impaksi →  Fraktur dimana fragmen tulang terdorong kef ragmen tulang lainnya.
F.     TANDA DAN GEJALA
1.      Nyeri tekan : karena adanya kerusakan syaraf dan pembuluh darah.
2.      Bengkak dikarenakan tidak lancarnya aliran darah ke jaringan.
3.      Krepitus yaitu rasa gemetar ketika ujung tulang bergeser.
4.      Deformitas yaitu perubahan bentuk, pergerakan tulang jadi memendek karena kuatnya tarikan otot-otot ekstremitas yang menarik patahan tulang.
5.      Gerakan abnormal, disebabkan karena bagian gerakan menjadi tidak normal disebabkan tidak tetapnya tulang karena fraktur.
6.      Fungsiolaesa/paralysis karena rusaknya syaraf serta pembuluh darah.
7.      Memar karena perdarahan subkutan.
8.      Spasme otot pada daerah luka atau fraktur terjadi kontraksi pada otot-otot involunter.
9.      Gangguan sensasi (mati rasa) dapat terjadi karena kerusakan syaraf atau tertekan oleh cedera, perdarahan atau fragmen tulang.
10.  Echumosis dari Perdarahan Subculaneous
11.  Nyeri mungkin disebabkan oleh spasme otot berpindah tulang dari tempatnya dan kerusakan struktur di daerah yang berdekatan.
12.  Shock hipovolemik hasil dari hilangnya darah

G.    KOMPLIKASI FRAKTUR
1.      Shock. Perdarahan selalu terjadi pada tempat fraktur dan perdarahan ini dapat hebat sekali sehingga shock terjadi, misalnya pada fraktur pelvis dan femur.
2.      Infeksi. Paling serng menyertai fraktur terbuka, tetapi kini sudah jarang dijumpai.
Pencegahan :
·         Penggangkatan semua jaringan mati dengan segera serta hati – hati sekali dan juga benda asing dari luka, yang diikuti oleh penjahitan luka tersebut.
·         Peberian antibiotic dan antitetanus.
3.      Nekrosis Avaksuler, Fraktur dapat mengganggu aliran darah ke salah satu fragmen sehingga fragmen tersebut kemudian mati.
4.      Cedera vaskuler dan saraf. Kedua organ ini dapat cedera akibat ujung patahan tulang yang tajam. Kerusakan yang diakibatkan dapat menimbulkan iskemia akstremitas dan gangguan saraf.
5.      Malunion. Gerakan ujung patahan akibat imobilisasi yang jelek dapat menyebabkan malunion. Sebab lainnya adalah infeksi dan jaringan lunak yang terjepit diantara fragmen tulang. Akhirnya ujung patahan dapat saling teradaptasi dan membentuk ‘ sendi palsu’ dengan sedikit gerakan.
6.      Borok akibat tekanan. Akibat gips atau bidai yang memberikan tekanan setempat terjadi nekrosis pada jaringan superficial.

H.     PENATALAKSANAAN
a.      Medis
1)      Traksi.
Secara umum traksi dilakukan dengan menempatkan beban dengan tali pada ekstreminasi klien. Tempat tarikan disesuaikan sedemikian rupa sehingga arah tarikan segarisdengan sumbu tarikan tulang yang patah. Kegunaan traksi adalah antara lain mengurangi patah tulang, mempertahankan fragmen tulang pada posisi yang sebenarnya selama penyembuhan, memobilisasikan tubuh bagian jaringan lunak,memperbaiki deformitas.
Jenis traksi ada dua macam yaitu : Traksi kulit, biasanya menggunakan plester perekat sepanjang ekstremitas yang kemudian dibalut, ujung plester dihubungkan dengan tali untuk ditarik. Penarikan biasanya menggunakan katrol dan beban. Traksi skelet, biasanya dengan menggunakan pinSteinman/kawat kirshner yang lebih halus, biasanya disebut kawat k yang ditusukan pada tulang kemudian pin tersebut ditarik dengan tali, katrol dan beban.
2)      Reduksi.
Reduksi merupakan proses manipulasi pada tulang yang fraktur untuk memperbaiki kesejajaran dan mengurangi penekanan serta merenggangkan saraf dan pembuluh darah.
Jenis reduksi ada dua macam, yaitu : Reduksi tertutup, merupakan metode untuk mensejajarkan fraktur atau meluruskan fraktur, dan Reduksi terbuka, pada reduksi ini insisi dilakukan dan fraktur diluruskan selama pembedahan dibawah pengawasan langsung. Pada saat pembedahan, berbagai alat fiksasi internal digunakan pada tulang yang fraktur.
b.      Fisiotherapi.
Dapat dilakukan oleh therapist, perawat atau mesin CPM (continous pasive motion). Untuk meningkatkan kekuatan otot.
c.       Proses Penyembuhan Tulang
1)      Fase formasi hematon (sampai hari ke-5).
Pada fase ini area fraktur akan mengalami kerusakan pada kanalis havers dan jaringan lunak, pada 24 jam pertamaakan membentuk bekuan darah dan fibrin yang masuk ke area fraktur sehingga suplai darah ke area fraktur meningkat, kemudian akan membentuk hematoma sampai berkembang menjadi jaringan granulasi.
2)      Fase proliferasi (hari ke-12)
Akibat dari hematoma pada respon inflamasi fibioflast dan kapiler-kapiler baru tumbuh membentuk jaringan granulasi dan osteoblast berproliferasi membentuk fibrokartilago,kartilago hialin dan jaringan penunjang fibrosa, akan selanjutnya terbentuk fiber-fiber kartilago dan matriks tulang yang menghubungkan dua sisi fragmen tulang yang rusak sehingga terjadi osteogenesis dengan cepat.
3)      Fase formasi kalius (6-10 hari, setelah cidera)
Pada fase ini akan membentuk pra prakulius dimana jumlah prakalius nakan membesar tetapi masih bersifat lemah, prakulius akan mencapai ukuran maksimal pada hari ke-14 sampai dengan hari ke-21 setelah cidera.
4)      Fase formasi kalius (sampai dengan minggu ke-12)
Pada fase ini prakalius mengalami pemadatan (ossificasi)sehingga terbentuk kalius-kalius eksterna, interna dan intermedialis selain itu osteoblast terus diproduksi untuk pembentukan kalius ossificasi ini berlangsung selama 2-3minggu. Pada minggu ke-3 sampai ke-10 kalius akan menutupi tulang.
5)      Fase konsolidasi (6-8 Bulan) dan remoding (6-12 bulan)
Pengkokohan atau persatuan tulang proporsional tulang ini akan menjalani transformasi metaplastik untuk menjadi lebih kuat dan lebih terorganisasi. Kalius tulang akan mengalami remodering dimana osteoblast akan membentuk tulang baru, sementara osteoklast akan menyingkirkan bagian yang rusak sehingga akhirnya akan terbentuk tulang yang menyeruapai keadaan tulang yang aslinya.





I.        MANIFESTASI KLINIK
Manifestasi Klinis Fraktur adalah nyeri, hilangnya sungsideformitas, pemendekan  ekstremitas krepitus, pembekakan lokal dan perubahan warna.
1)      Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai frogmen tulang diimobilisasi spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai alamiah yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antar fragmen tulang.
2)      Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian tidak dapat digunakan dan cenderung bergerak secara tidak alamiah (gerakan luar biasa) bukannya tetap menjadi seperti normalnya. Pergeseran fragmen pada faktur lengan atau tungkai menyebabkan defromitas (terlihatmaupun teraba) ekstremitas yang bisa diketahui dengan membandingkan dengan ekstremitas normal. Ekstremitas tidak dapat berfungsi dengan baik karena fungsi normal otot bergantung pada integritas tulang tempat melekatnya otot.
3)      Pada fraktur panjang, terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena kontraksi otot yang melekat di atas dan bawah tempat fraktur. Fragmen sering saling melingkupi satu sama lain sampai 2,5 sampai 5 cm.
4)      Saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya fragmen satu dengan lainnya (uji krepitus dapat kerusakan jaringan lunakyang lebih berat).
5)      Pembekakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai akibat trauma dan pendarahan yang mengikuti fraktur. Tanda inibisa baru terjadi setelah beberapa jam atau hari setelah cedera.( Brunner dan Suddarth, 2001 : 2358 )

J.      PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.      Foto Rontgen
·         Untuk mengetahui lokasi fraktur dan garis fraktur secara langsung
·         Mengetahui tempat dan type fraktur
·         Biasanya diambil sebelum dan sesudah dilakukan operasi dan selama proses penyembuhan secara periodic
2.      Skor tulang tomography, skor C1, Mr1 : dapat digunakan mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak.
3.      Artelogram dicurigai bila ada kerusakan vaskuler
4.      Hitung darah lengkap HT mungkin meningkat ( hemokonsentrasi ) atau menurun ( perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada trauma multiple) Peningkatan jumlah SDP adalah respon stres normal setelah trauma.
5.      Profil koagulasi perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah transfusi multiple atau cedera hati (Doenges, 1999 : 76 ).

K.     ASUHAN KEPERAWATAN
1.      Pengkajian
Pengkajian adalah langkah awal dan dasar dalam proses keperawatan secara menyeluruh (Boedihartono, 1994 : 10).
Keluhan Utama
Pada umumnya keluhan utama pada kasus fraktur adalah rasa nyeri. Nyeri tersebut bisa akut atau kronik tergantung dan lamanya serangan. (Ignatavicius, Donna D, 1995)
Riwayat Penyakit Sekarang
Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab dari fraktur, yang nantinya membantu dalam membuat rencana tindakan terhadap klien. Ini bisa berupa kronologi terjadinya penyakit tersebut sehingga nantinya bisa ditentukan kekuatan yang terjadi dan bagian tubuh mana yang terkena. Selain itu, dengan mengetahui mekanisme terjadinya kecelakaan bisa diketahui luka kecelakaan yang lain (Ignatavicius, Donna D, 1995).
Riwayat Penyakit Dahulu
Pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab fraktur dan memberi petunjuk berapa lama tulang tersebut akan menyambung. Penyakit-penyakit tertentu seperti kanker tulang dan penyakit paget’s yang menyebabkan fraktur patologis yang sering sulit untuk menyambung. Selain itu, penyakit diabetes dengan luka di kaki sanagt beresiko terjadinya osteomyelitis akut maupun kronik dan juga diabetes menghambat proses penyembuhan tulang (Ignatavicius, Donna D, 1995).
Riwayat Penyakit Keluarga
Penyakit keluarga yang berhubungan dengan penyakit tulang merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya fraktur, seperti diabetes, osteoporosis yang sering terjadi pada beberapa keturunan, dan kanker tulang yang cenderung diturunkan secara genetik (Ignatavicius, Donna D, 1995).
Riwayat Psikososial
Merupakan respons emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan peran klien dalam keluarga dan masyarakat serta respon atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari-harinya baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat (Ignatavicius, Donna D, 1995).
Pengkajian pasien Post op frakture Olecranon (Doenges, 1999) meliputi :
a.       Sirkulasi
Gejala : riwayat masalah jantung, GJK, edema pulmonal, penyakit vascular perifer, atau stasis vascular (peningkatan risiko pembentukan trombus).
b.      Integritas ego
Gejala : perasaan cemas, takut, marah, apatis ; factor-faktor stress multiple, misalnya financial, hubungan, gaya hidup.
Tanda : tidak dapat istirahat, peningkatan ketegangan/peka rangsang ; stimulasi simpatis.
c.       Makanan / cairan
Gejala : insufisiensi pancreas/DM, (predisposisi untuk   hipoglikemia/ketoasidosis) ; malnutrisi (termasuk obesitas) ; membrane mukosa yang kering (pembatasan pemasukkan / periode puasa pra operasi).
d.      Pernapasan
Gejala : infeksi, kondisi yang kronis/batuk, merokok.
e.       Keamanan
Gejala : alergi/sensitive terhadap obat, makanan, plester, dan larutan ; Defisiensi immune (peningkaan risiko infeksi sitemik dan penundaan penyembuhan) ; Munculnya kanker / terapi kanker terbaru ; Riwayat keluarga tentang hipertermia malignant/reaksi anestesi ; Riwayat penyakit hepatic (efek dari detoksifikasi obat-obatan dan dapat mengubah koagulasi) ; Riwayat transfuse darah / reaksi transfuse.
Tanda : menculnya proses infeksi yang melelahkan ; demam.
f.       Penyuluhan / Pembelajaran
Gejala : pengguanaan antikoagulasi, steroid, antibiotic, antihipertensi, kardiotonik glokosid, antidisritmia, bronchodilator, diuretic, dekongestan, analgesic, antiinflamasi, antikonvulsan atau tranquilizer dan juga obat yang dijual bebas, atau obat-obatan rekreasional. Penggunaan alcohol (risiko akan kerusakan ginjal, yang mempengaruhi koagulasi dan pilihan anastesia, dan juga potensial bagi penarikan diri pasca operasi).
2.      Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah suatu penyatuan dari masalah pasien yang nyata maupun potensial berdasarkan data yang telah dikumpulkan (Boedihartono, 1994 : 17).
Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien dengan post op fraktur (Wilkinson, 2006) meliputi :
1.      Nyeri berhubungan dengan terputusnya jaringan tulang, gerakan fragmen tulang, edema dan cedera pada jaringan, alat traksi/immobilisasi, stress, ansietas
2.      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan dispnea, kelemahan/keletihan, ketidak edekuatan oksigenasi, ansietas, dan gangguan pola tidur.
3.      Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tekanan, perubahan status metabolik, kerusakan sirkulasi dan penurunan sensasi dibuktikan oleh terdapat luka / ulserasi, kelemahan, penurunan berat badan, turgor kulit buruk, terdapat jaringan nekrotik.
4.      Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri/ketidak nyamanan, kerusakan muskuloskletal, terapi pembatasan aktivitas, dan penurunan kekuatan/tahanan.
5.      Risiko infeksi berhubungan dengan stasis cairan tubuh, respons inflamasi tertekan, prosedur invasif dan jalur penusukkan, luka/kerusakan kulit, insisi pembedahan.
6.      Kurang pengetahuan tantang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan keterbatasan kognitif, kurang terpajan/mengingat, salah interpretasi informasi.
3.      Intervensi dan Implementasi
Intervensi adalah penyusunan rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan untuk menanggulangi masalah sesuai dengan diagnosa keperawatan (Boedihartono, 1994:20) Implementasi adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan (Effendi, 1995:40).
Intervensi dan implementasi keperawatan yang muncul pada pasien dengan post op frakture Olecranon (Wilkinson, 2006) meliputi :
1.      Nyeri berhubungan dengan terputusnya jaringan tulang, gerakan fragmen tulang, edema dan cedera pada jaringan, alat traksi/immobilisasi, stress, ansietas
Tujuan : nyeri dapat berkurang atau hilang.
Kriteria Hasil :
-          Nyeri berkurang atau hilang
-           Klien tampak tenang.
Intervensi dan Implementasi :
a)      Lakukan pendekatan pada klien dan keluarga. Rasional/ hubungan yang baik membuat klien dan keluarga kooperatif
b)      Kaji tingkat intensitas dan frekwensi nyeri. Rasional/ tingkat intensitas nyeri dan frekwensi menunjukkan skala nyeri
c)      Jelaskan pada klien penyebab dari nyeri. Rasional/ memberikan penjelasan akan menambah pengetahuan klien tentang nyeri.
d)     Observasi tanda-tanda vital. Rasional/ untuk mengetahui perkembangan klien
e)      Melakukan kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian analgesic.
Rasional/ merupakan tindakan dependent perawat, dimana analgesik berfungsi untuk memblok stimulasi nyeri.
2.      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan dispnea, kelemahan/keletihan, ketidak edekuatan oksigenasi, ansietas, dan gangguan pola tidur.
Intoleransi aktivitas adalah suatu keadaaan seorang individu yang tidak cukup mempunyai energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau memenuhi kebutuhan atau aktivitas sehari-hari yang diinginkan.
Tujuan : pasien memiliki cukup energi untuk beraktivitas.
Kriteria hasil :
-          perilaku menampakan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan diri.
-          pasien mengungkapkan mampu untuk melakukan beberapa aktivitas tanpa dibantu.
-          Koordinasi otot, tulang dan anggota gerak lainya baik.
Intervensi dan Implementasi :
a.       Rencanakan periode istirahat yang cukup. Rasional/ mengurangi aktivitas yang tidak diperlukan, dan energi terkumpul dapat digunakan untuk aktivitas seperlunya secar optimal.
b.      Berikan latihan aktivitas secara bertahap. Rasional/ tahapan-tahapan yang diberikan membantu proses aktivitas secara perlahan dengan menghemat tenaga namun tujuan yang tepat, mobilisasi dini.
c.       Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhan sesuai kebutuhan.
Rasional/ mengurangi pemakaian energi sampai kekuatan pasien pulih kembali.
d.      Setelah latihan dan aktivitas kaji respons pasien. Rasional/ menjaga kemungkinan adanya respons abnormal dari tubuh sebagai akibat dari latihan.
3.      Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tekanan, perubahan status metabolik, kerusakan sirkulasi dan penurunan sensasi dibuktikan oleh terdapat luka / ulserasi, kelemahan, penurunan berat badan, turgor kulit buruk, terdapat jaringan nekrotik.
Kerusakan integritas kulit adalah keadaan kulit seseorang yang mengalami perubahan secara tidak diinginkan.
Tujuan : Mencapai penyembuhan luka pada waktu yang sesuai.
Kriteria Hasil :
-          tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus.
-          uka bersih tidak lembab dan tidak kotor.
-          Tanda-tanda vital dalam batas normal atau dapat ditoleransi.
Intervensi dan Implementasi :
a.       Kaji kulit dan identifikasi pada tahap perkembangan luka.
Rasional/ mengetahui sejauh mana perkembangan luka mempermudah dalam melakukan tindakan yang tepat.
b.      Kaji lokasi, ukuran, warna, bau, serta jumlah dan tipe cairan luka.
Rasional/ mengidentifikasi tingkat keparahan luka akan mempermudah intervensi.
c.       Pantau peningkatan suhu tubuh. Rasional/ suhu tubuh yang meningkat dapat diidentifikasikan sebagai adanya proses peradangan.
d.      Berikan perawatan luka dengan tehnik aseptik. Balut luka dengan kasa kering dan steril, gunakan plester kertas. Rasional/ tehnik aseptik membantu mempercepat penyembuhan luka dan mencegah terjadinya infeksi.
e.       Jika pemulihan tidak terjadi kolaborasi tindakan lanjutan, misalnya debridement.
Rasional/ agar benda asing atau jaringan yang terinfeksi tidak menyebar luas pada area kulit normal lainnya.
f.       Setelah debridement, ganti balutan sesuai kebutuhan. Rasional/ balutan dapat diganti satu atau dua kali sehari tergantung kondisi parah/ tidak nya luka, agar tidak terjadi infeksi.
g.      Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi. Rasional / antibiotik berguna untuk mematikan mikroorganisme pathogen pada daerah yang berisiko terjadi infeksi.
4.      Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri/ketidak nyamanan, kerusakan muskuloskletal, terapi pembatasan aktivitas, dan penurunan kekuatan/tahanan.
Hambatan mobilitas fisik adalah suatu keterbatasan dalam kemandirian, pergerakkan fisik yang bermanfaat dari tubuh atau satu ekstremitas atau lebih.
Tujuan : pasien akan menunjukkan tingkat mobilitas optimal.
Kriteria hasil :
-          penampilan yang seimbang..
-          melakukan pergerakkan dan perpindahan.
-          mempertahankan mobilitas optimal yang dapat di toleransi, dengan karakteristik :
 0 = mandiri penuh
1 = memerlukan alat Bantu.
2 = memerlukan bantuan dari orang lain untuk bantuan, pengawasan, dan pengajaran.
3 = membutuhkan bantuan dari orang lain dan alat Bantu.
4 = ketergantungan; tidak berpartisipasi dalam aktivitas.
Intervensi dan Implementasi :
a.       Kaji kebutuhan akan pelayanan kesehatan dan kebutuhan akan peralatan. R/ mengidentifikasi masalah, memudahkan intervensi.
b.      Tentukan tingkat motivasi pasien dalam melakukan aktivitas. Rasional/ mempengaruhi penilaian terhadap kemampuan aktivitas apakah karena ketidakmampuan ataukah ketidakmauan.
c.       Ajarkan dan pantau pasien dalam hal penggunaan alat bantu. Rasional/ menilai batasan kemampuan aktivitas optimal.
d.      Ajarkan dan dukung pasien dalam latihan ROM aktif dan pasif. Rasional/ mempertahankan /meningkatkan kekuatan dan ketahanan otot.
e.       Kolaborasi dengan ahli terapi fisik atau okupasi. Rasional/ sebagai suaatu sumber untuk mengembangkan perencanaan dan mempertahankan/meningkatkan mobilitas pasien.
5.      Risiko infeksi berhubungan dengan stasis cairan tubuh, respons inflamasi tertekan, prosedur invasif dan jalur penusukkan, luka/kerusakan kulit, insisi pembedahan.
Risiko infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan perifer, perubahan sirkulasi, kadar gula darah yang tinggi, prosedur invasif dan kerusakan kulit.
Tujuan : infeksi tidak terjadi / terkontrol.
Kriteria hasil :
-          tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus.
-          luka bersih tidak lembab dan tidak kotor.
-          Tanda-tanda vital dalam batas normal atau dapat ditoleransi.
Intervensi dan Implementasi :
a.       Pantau tanda-tanda vital. Rasional/ mengidentifikasi tanda-tanda peradangan terutama bila suhu tubuh meningkat.
b.      Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik. Rasional/ mengendalikan penyebaran mikroorganisme patogen.
c.       Lakukan perawatan terhadap prosedur inpasif seperti infus, kateter, drainase luka, dll. Rasional/ untuk mengurangi risiko infeksi nosokomial.
d.      Jika ditemukan tanda infeksi kolaborasi untuk pemeriksaan darah, seperti Hb dan leukosit. Rasional/ penurunan Hb dan peningkatan jumlah leukosit dari normal bisa terjadi akibat terjadinya proses infeksi.
e.       Kolaborasi untuk pemberian antibiotik. Rasional/ antibiotik mencegah perkembangan mikroorganisme patogen.
6.      Kurang pengetahuan tantang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan keterbatasan kognitif, kurang terpajan/mengingat, salah interpretasi informasi.
Tujuan : pasien mengutarakan pemahaman tentang kondisi, efek prosedur dan proses pengobatan.
Kriteria Hasil :
-          melakukan prosedur yang diperlukan dan menjelaskan alasan dari suatu tindakan.
-          memulai perubahan gaya hidup yang diperlukan dan ikut serta dalam regimen perawatan.
Intervensi dan Implementasi:
a.       Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya.
Rasional/ mengetahui seberapa jauh pengalaman dan pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya.
b.      Berikan penjelasan pada klien tentang penyakitnya dan kondisinya sekarang. Rasional/ dengan mengetahui penyakit dan kondisinya sekarang, klien dan keluarganya akan merasa tenang dan mengurangi rasa cemas.
c.       Anjurkan klien dan keluarga untuk memperhatikan diet makanan nya.
Rasional/ diet dan pola makan yang tepat membantu proses penyembuhan.
d.      Minta klien dan keluarga mengulangi kembali tentang materi yang telah diberikan. Rasional/ mengetahui seberapa jauh pemahaman klien dan keluarga serta menilai keberhasilan dari tindakan yang dilakukan.
4.      EVALUASI
Evaluasi addalah stadium pada proses keperawatan dimana taraf keberhasilan dalam pencapaian tujuan keperawatan dinilai dan kebutuhan untuk memodifikasi tujuan atau intervensi keperawatan ditetapkan (Brooker, 2001).
Evaluasi yang diharapkan pada pasien dengan post operasi fraktur adalah :
1.      Nyeri dapat berkurang atau hilang setelah dilakukan tindakan keperawatan.
2.      Pasien memiliki cukup energi untuk beraktivitas.
3.      Mencapai penyembuhan luka pada waktu yang sesuai
4.      Pasien akan menunjukkan tingkat mobilitas optimal.
5.      Infeksi tidak terjadi / terkontrol
6.      Pasien mengutarakan pemahaman tentang kondisi, efek prosedur dan proses pengobatan.





BAB III
PENUTUP

  1. Kesimpulan
Fraktur adalah pemisahan atau robekan pada kontinuitastulang yang terjadi karena adanya tekanan yang berlebihan pada tulang dan tulang tidak mampu untuk menahannya.
Penyebab fraktur / patah tulang menurut (Long, 1996 : 367) adalah :
a.       Benturan dan cedera (jatuh pada kecelakaan)
b.      Fraktur patologik (kelemahan hilang akibat penyakit kanker,osteophorosis)
c.       Patah karena letih
d.      Patah karena tulang tidak dapat mengabsorbsi energi karena berjalan terlalu jauh.
Pemeriksaan Fraktur
a)      Foto Rontgen
·         Untuk mengetahui lokasi fraktur dan garis fraktur secara langsung
·         Mengetahui tempat dan type fraktur
·         Biasanya diambil sebelum dan sesudah dilakukan operasi dan selama proses penyembuhan secara periodic
b)      Skor tulang tomography, skor C1, Mr1 : dapat digunakan mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak.
c)      Artelogram dicurigai bila ada kerusakan vaskuler
d)     Hitung darah lengkap HT mungkin meningkat ( hemokonsentrasi ) atau menurun ( perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada trauma multiple) Peningkatan jumlah SDP adalah respon stres normal setelah trauma.
e)      Profil koagulasi perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah transfusi multiple atau cedera hati (Doenges, 1999 : 76 ).

  1. Kritik dan Saran
            Makalah ini sangatlah jauh dari kata sempurna,untuk itu demi perbaikan makalah ini untuk dimasa yang akan datang, penulis mengharapkan kritikan serta saran dari pembaca. Semoga makalah ini dapat bermanfaat.